Dulu saya habisin 2 jam cuma buat ngerapin notes meeting yang berantakan. Sekarang? 15 menit. Tapi ini bukan soal magic—ini soal pilih senjata yang tepat antara Notion AI vs ChatGPT untuk urusan mencatat dan merangkum.
Masalahnya, keduanya bisa ngesummarize, tapi cara kerjanya beda banget. Pilih yang salah, kamu malah bikin workflow yang lebih ribet. Saya udah 8 bulan pakai keduanya dalam setting produksi—dari ngesummin jurnal penelitian sampe ngerapin notes meeting startup—and here’s the real deal.
Kenapa “Mencatat & Merangkum” Bisa Berarti Hal yang Sangat Berbeda
Sebelum kita perang, kita perlu sepakati medannya. “Mencatat” untuk kamu yang udah setahun pake Notion sebagai second brain itu beda jauh dari “mencatat” yang artinya cuma paste text ke ChatGPT buat diringkas.

Notion AI itu embedded intelligence—dia hidup di dalam sistem catatanmu. ChatGPT itu external brain—dia genius tapi butuh kamu feed context tiap kali. Ini beda fundamental.
Notion AI: The Silent Assistant di Dalam Workspace-mu
Saya mulai dengan Notion AI karena ini yang paling underrated. Banyak yang bilang “lemah”, tapi itu karena mereka pakainya salah.
Superpower Utama: Context Awareness
Bayangin kamu punya page meeting notes 5 halaman penuh dengan transkrip, todo list, dan screenshot. Notion AI bisa langsung “Ask AI” di page itu dan tanya: “Apa action items yang belum selesai dari semua meeting di page ini?”
Ini bukan teori. Minggu lalu, saya punya page transkrip wawancara user 12.000 kata. Notion AI nge-identify 3 pain points utama, nge-cluster berdasarkan frekuensi mention, dan ngesuggest insight dalam 45 detik. ChatGPT? Ya bisa, tapi saya harus paste 12k token dan harap-harap cemas dia nggak lost in context.
Limitasi Nyata yang Sering Dikeluhkan
Tapi jangan terlena. Notion AI punya batasan keras:
- Token limit yang lebih kecil: Meski Notion nggak transparent, pengalaman saya menunjukkan dia struggle di atas ~10k kata per page. Beda dengan GPT-4 Turbo yang 128k.
- Rate limit agresif: Di plan Plus (10$/month), kamu cuma dapet ~100 AI responses. Di Pro (18$/month) baru naik ke 500. Saya habiskan 70 responses cuma buat ngesummin backlog notes 1 bulan.
- Stuck di ekosistem: Mau summarize PDF? Harus copy-paste text dulu. Mau rangkumin Slack thread? Harus forward dulu. Dia nggak universal.
Warning: Notion AI itu powerful hanya kalau kamu udah commit pake Notion sebagai central knowledge hub. Kalau cuma buat ngesummin artikel random, ini overkill dan mahal.
ChatGPT: The Swiss Army Knife yang Butuh Prompt Engineering
Sekarang ke ChatGPT. Ini tool yang lebih familiar, tapi untuk mencatat dan merangkum, dia punya persona berbeda tergantung gimana kamu pakai.

Mode Terbaik untuk Mencatat: Custom GPT + Thread Strategy
ChatGPT free? Bisa, tapi menyiksa. Saya pakai ChatGPT Plus (20$/month) dengan custom GPT khusus “Note Taker” yang udah di-inject dengan system prompt:
“You are an expert note-taker. Always output in Markdown. Use bullet points, bold key terms, and create clear H2/H3 structure. Summarize concisely but preserve nuance.”
Hasilnya? Konsistensi format yang Notion AI nggak bisa match. Tapi ada trade-off: kamu harus manually paste konteks tiap kali.
Context Window: Blessing and Curse
GPT-4 Turbo dengan 128k token itu teknisnya bisa jelajah 300+ halaman teks. Tapi di lapangan, saya temukan:
- Di atas 30k token, akurasi mulai menurun. Dia nggak “lost” tapi mulai lupa detail di tengah-tengah.
- No persistent memory. Tiap session baru = blank slate. Beda dengan Notion AI yang ingat struktur database kamu.
- Rate limit di free tier: 40 messages per 3 jam. Di Plus, 80 per 3 jam. Cukup, tapi bisa habis kalau lagi marathon ngesummin research paper.
Pro tip: Saya pakai “threading strategy”—satu thread per project, selalu reference previous messages. Ini bikin ChatGPT punya pseudo-memory, tapi hati-hati: thread yang terlalu panjang jadi lambat dan error-prone.
Head-to-Head: 3 Skenario Nyata
Mari kita simulasiin 3 case yang sering banget di dunia kerja.
Skenario 1: Ngerapin Meeting Notes Berantakan
Input: 2 halaman catatan ngetik sendiri, penuh typo, tanpa struktur.
Notion AI: Select all → “Ask AI” → “Make this structured with clear action items”. Output langsung jadi Notion blocks yang bisa di-assign ke orang.
Time: 30 detik.
ChatGPT: Paste → Prompt yang panjang lebar buat define format → Copy-paste hasilnya balik ke Notion.
Time: 2 menit.
Winner: Notion AI, hands down. Integrasi itu ngasih 4x speed boost.
Skenario 2: Summarize Research Paper 20 Halaman
Input: PDF paper yang harus dibaca dalam 1 jam.
Notion AI: Upload PDF ke Notion (jadi attachment) → “Summarize this paper”. Tapi dia nggak baca attachment! Harus copy-paste text-nya dulu.
Time: 5 menit setup.
ChatGPT: Upload PDF (ChatGPT Plus support PDF parsing) → “Summarize with focus on methodology”. Langsung jalan.
Time: 30 detik.
Winner: ChatGPT. PDF parsing native-nya killer feature.
Skenario 3: Build Knowledge Base dari 50+ Catatan Lama
Input: Catatan meeting selama 6 bulan di Notion database.
Notion AI: Bisa query cross-page: “Based on all notes in this database, what are recurring themes about customer complaints?” Ini game-changer. Saya pernah dapet insight yang nggak pernah terpikirkan.
ChatGPT: Harus export semua notes jadi CSV/JSON, trus upload. Bisa, tapi manual dan error-prone. Kalau pake API, butuh coding.
Winner: Notion AI. Context awareness di sini bikin dia jadi analytical engine, bukan cuma summarizer.
Perbandingan Spesifikasi Tabel
| Fitur | Notion AI | ChatGPT Plus |
|---|---|---|
| Context Awareness | Native di workspace | Manual paste per session |
| Token Limit (efektif) | ~10k kata per page | ~30k kata (praktis) |
| Rate Limit | 100-500 responses/month | 80 messages/3 hours |
| PDF Support | Manual copy-paste | Native upload & parse |
| Output Format | Notion blocks (terbatas) | Markdown, flexible |
| Cross-Page Analysis | ✅ Yes (database query) | ❌ No (tanpa coding) |
| Biaya (per user) | $10-18/month + Notion plan | $20/month |
Rekomendasi Berdasarkan Persona Pengguna
Setelah 8 bulan, ini verdict saya yang nggak netral:
Kamu Harus Pakai Notion AI Kalau:
- Kamu udah commit pake Notion sebagai single source of truth. Minimal 30% kerjaanmu di sana.
- Butuh analisis pattern di catatan lama—bukan cuma ngesummin satu dokumen.
- Workflowmu melibatkan banyak database, relations, and rollups. Notion AI ngerti ini.
- Kamu mau minimize context switching. Satu klik > copy-paste.
Kamu Harus Pakai ChatGPT Kalau:
- Kamu kerja dengan sumber data acak: PDF, email, Slack, website. Inputnya nggak terstruktur.
- Butuh creative summarization—misalnya rangkumin dengan gaya tertentu, bikin analogi, atau output dalam format spesifik.
- Kamu butuh long-context summarization di atas 10k kata dalam satu dokumen.
- Kamu nggak mau terikat ekosistem. Freedom > integration.
Kamu Harus Pakai Keduanya Kalau:
Seperti saya. Use Notion AI untuk internal knowledge management dan ChatGPT untuk external information processing. Workflow-nya:
- ChatGPT buat summarize artikel, paper, atau meeting transcript yang masih mentah.
- Copy hasilnya ke Notion.
- Notion AI buat analisis cross-notes dan generate insight.
Biayanya? $38/month. Worth it kalau waktumu worth >$20/jam.
Pro Tips yang Nggak Ada di Dokumentasi
Ini rahasia yang saya temuin dari trial-error:
Untuk Notion AI: Buat template button dengan pre-written AI prompt. Misal: “Summarize this meeting and extract action items with @mentions.” Ini hemat 80% waktu dan konsisten.
Untuk ChatGPT: Pakai thread naming convention. Saya pakai format: “PROJECT_NAME_SUMMARY_YYYY-MM-DD”. Ini bikin kamu bisa search thread di masa depan dan reference context tanpa mulai dari nol.
Hybrid Hack: Notion punya integration dengan Zapier. Saya buat automation: kalau ada email ke label “Important”, Zapier forward ke ChatGPT API untuk summarize, trus hasilnya masuk ke Notion page. Best of both worlds, no manual work.
The Verdict yang Nggak Netral
Kalau kamu harus pilih satu dan fokusnya mencatat & merangkum dari sumber internal (meeting, ide, research), Notion AI lebih efektif. Speed dan context awareness-nya bikin dia jadi extension otakmu.
Tapi kalau kamu mostly proses informasi dari luar (paper, artikel, report), atau butuh fleksibilitas format, ChatGPT lebih powerful. Dia lebih jadi general-purpose AI yang bisa di-tune.
Yang paling efektif? Notion AI untuk storage & analysis, ChatGPT untuk processing & generation. Jangan pilih, kombinasikan.
Final thought: Tools ini cuma sebagus workflow yang kamu bangun. Saya pernah 2 minggu cuma pake Notion AI dan frustrasi. Sama juga cuma pake ChatGPT. The magic happens di handoff di antara keduanya.




