Bayangin: lo punya ide video YouTube yang viral-worthy, tapi terjebak ngedit 6 jam cuma untuk sync voiceover sama stock footage. Familiar? Nah, InVideo AI datang dengan janji bikin video full-fledged cuma dari teks. No kidding. Saya uji 3 bulan, bikin 17 video, dan ini verdict lengkapnya—tanpa basa-basi.

Pertama Kali Coba: Kaget Sama Kecepatannya
Setup-nya brutal sederhana. Lo paste script, pilih platform (YouTube Shorts, Reels, atau long-form), pilih workflow—saya pilih “Script to Video”—dan BOOM dalam 3-5 menit udah ada rough cut.
Contoh konkret: saya bikin video “5 Tools AI untuk Copywriting”. Script 450 kata, hasilnya: 8 scene otomatis, masing-masing dengan stock video yang relevan (nggak cuma random), plus voiceover AI yang intonasinya… cukup manusiawi. Total waktu: 4 menit 23 detik. Bandingkan dengan manual editing yang biasa makan 2-3 jam.
Speed bukan segalanya, tapi kalau lo konsisten upload, ini pembeda hidup-mati.
Editor UI-nya web-based, nggak perlu install. Render di cloud, jadi laptop lo nggak panas. Tapi hati-hati: koneksi lemot? Bisa error di tengah jalan.
Template: Kaya Pilihan, Tapi…
Ada 5.000+ template. Ya, ribuan. Tapi 70%-nya terlalu corporate atau kayak iklan TV tahun 2010. Buat konten creator edgy atau niche seperti gaming review? Susah nyari yang pas.
Untungnya, AI generator bisa build template dari nol. Lo kasih prompt: “Create a fast-paced tech review template with glitch effects,” dan dalam 2-3 menit ada. Hasilnya? Usable, tapi butuh 30% tweaking manual untuk bener-bener slap.
Template Breakdown yang Saya Pakai:
- YouTube Shorts (9:16): 500+ template, tapi yang modern cuma ~50. Biasanya mulai dari $15-20.
- Long-form (16:9): Template talking head + B-roll otomatis. Ini yang paling powerful.
- Product Promo: Avoid. Terlaku salesy dan AI voice-nya cringe.
AI Voice & Script: Jangan Percaya 100%
InVideo AI punya 50+ voice AI. Dari yang murahan kayak Google Text-to-Speech sampai yang neural cukup convincing. Tapi tetap, ada tell-nya: kadang penekanan di kata yang salah, jeda awkward.
Triksnya? Edit script lo jadi lebih conversational. Hapus kata-kata sulit, pecah kalimat panjang. Saya biasanya generate voice, dengerin, lalu edit script 2-3 kali. Proses ini tetap lebih cepat 5x daripada rekam manual.
Untuk channel bilingual (ID-EN), fitur auto-translate lumayan akurat. Tapi slang Indonesia sering jadi aneh. “Gokil” jadi “sangat keren” dengan voice yang terlalu formal. Masih butuh human touch.
Kekurangan yang Ngeselin (Tapi Bisa Diakali)
1. Stock Media Limitation: Library-nya besar, tapi footage trending kayak meme, sound effect viral? Nggak ada. Lo harus upload manual. Saya biasanya download dari Pexels, upload ke InVideo, lalu tag untuk reuse.
2. Rendering Time: Klaimnya 5 menit, tapi untuk video 10+ menit bisa 20-30 menit. Dan kadang queue panjang di jam sibuk (siang/sore WIB). Solusi: render malem hari.
3. No Advanced Color Grading: Kalau lo colorist wannabe, ini bakal bikin nangis. Cuma ada preset filter kayak Instagram. Saya workaround dengan export raw, grading di DaVinci Resolve free version. Butuh extra step.
4. Subscription Price: Plan Plus $20/bulan cuma dapat 60 video. Buat yang upload daily? Ketagihan. Business plan $48/bulan unlimited, tapi mahal buat pemula.
Rule of thumb: Kalau lo bikin <30 video/bulan, Plus cukup. Lebih dari itu? Business plan atau cari alternatif.
Comparison: InVideo AI vs CapCut vs Pictory
CapCut gratis dan punya AI, tapi lebih ke mobile-first, kurang powerful untuk script-based. Pictory mirip InVideo, tapi library-nya lebih kecil dan voice AI-nya lebih robotik.
| Fitur | InVideo AI | CapCut Desktop | Pictory |
|---|---|---|---|
| Script-to-Video | ✅ Otomatis full | ⚠️ Manual sync | ✅ Otomatis |
| Render Speed | 5-30 menit | Real-time | 10-40 menit |
| Stock Library | 5M+ (iStock) | Limited free | 3M+ |
| AI Voice Quality | 7.5/10 | 8/10 (CapCut Voice) | 6/10 |
| Price | $20-48/mo | Free | $19-39/mo |
Siapa yang Harus Pakai Ini?
COCOK BUAT:
- Faceless channel (top 10, motivation, info-tainment). Ini golden tool.
- Content agency yang handle banyak klien. Speed = profit.
- Pemula yang nggak mau belajar editing dulu. Bisa fokus ke scriptwriting.
TOLONG JANGAN:
- Vlogger yang butuh personality. AI nggak bisa capture momen candid.
- Channel niche yang butuh footage eksklusif (review hardware, gaming).
- Perfectionist yang butuh pixel-perfect control. Ini bakal bikin kesel.
Verdict Akhir: Worth It atau Gimmick?
Setelah 17 video dan 3 bulan, saya masih subscribe Business plan. Kenapa? Karena waktu saya lebih mahal. Satu jam ngedit manual bisa dipakai research niche, optimize thumbnail, atau sekadar istirahat.
Tapi dengan catatan: InVideo AI adalah asisten, bukan pengganti. 80% rough cut otomatis, 20% tetap butuh sentuhan manusia. Edit pacing, swap footage yang kurang pas, tambah meme, sound effect. Hasil akhirnya tetap terasa “lo” kalau lo mau invest extra 15 menit.
Kesimpulan: Bagus untuk speed & scale, tapi jangan harap masterpiece keluar otomatis. Budget $20-48/bulan? Go for it. Masih ragu? Coba free trial 7 hari, bikin 3 video, lihat analytics-nya. Kalau views naik, itu sinyal.
Tools ini nggak akan ganti editor pro, tapi bisa ganti excuse lo buat nggak upload. Dan itu yang paling berharga.




